L A B E L

Labeling, Labelling, Labeler, Iklan, BO - Bimbingan Orang Tua -, D - Dewasa -, SU - Semua Umur -, Film, Movie, Kartun, dan Pendidikan. Blog ini untuk membantu kita melihat sisi lain dari persepsi yang diinginkan dari marketer dunia. Jangan mau jadi korban iklan dan acara tv.

Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup


Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Temuan G. R Tibbets

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.

Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara

Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai.

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu, ” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.

Gujarat Sekadar Tempat Singgah

Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.(Rz, Tamat)

Sumber : Eramuslim.com

http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=181

Perempuan Lebih Suka Pria Berjenggot


By: Amelia Ayu Kinanti - detikhot
Jakarta

Bagi para laki-laki yang tak suka berjenggot, lebih baik Anda mulai pertimbangkan lagi. Menurut penelitian, ternyata perempuan lebih suka pria berjenggot lho.
Sebuah penelitian dilakukan terhadap perempuan berumur 18-44 tahun. Mereka semua diperlihatkan15 gambar pria yang memiliki jenggot dengan beberap tingkatan. Ada yang dagunya mulus tanpa bulu, sedikit jenggot hingga yang jenggotnya lebat. Perempuan-perempuan tadi kemudian harus memilih, pria-pria mana yang menurut mereka dewasa, romantis, agresif dan serius dalam berhubungan cinta.
Dikutip detikhot dari Telegraph.co.uk, Kamis (3/7/2008) hasil penelitian itu cukup mengejutkan. Mayoritas perempuan-perempuan tadi selalu memilih pria-pria yang berjenggot ketika menjawab pertanyaan yang diajukan.
Perempuan-perempuan itu juga menganggap pria-pria yang tidak bercukur memiliki daya tarik tersendiri. Mereka juga lebih memilih pria-pria berjenggot sebagai pasangan hidup mereka.
Tertarik memelihara jenggot?(kee/eny)

http://www.detikhot.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/07/tgl/03/time/162149/idnews/966596/idkanal/227

Nolak Satu M


By Akmal:

assalaamu’alaikum wr. wb.

Saat memberikan kuliah hari Sabtu yang lalu (05/07), Ust. Didin Hafidhuddin membagi kisah yang didapatnya dari perbincangan dengan Gubernur Jabar yang baru saja terpilih, yaitu ust. Ahmad Heryawan. Menurut cerita Sang Gubernur, tidak lama setelah beliau dilantik, datanglah seorang pengusaha besar kepada beliau yang hendak ‘menyetor’ uang. Jumlahnya tidak main-main ; tidak kurang dari 1 miliar rupiah!

Bagi mereka yang mengenal ust. Ahmad Heryawan secara pribadi pasti tahu bahwa beliau adalah pribadi yang sangat bersahaja. Kehidupannya selama ini selalu sederhana, baik sebelum menjadi anggota dewan maupun sesudah. Menolak 1 miliar rupiah bukan perkara yang gampang. Bayangkan betapa banyak permasalahan finansial yang bisa diselesaikan dengan uang sebanyak itu ; mulai dari sekolah anak sampai kuliahnya, biaya hidup, biaya renovasi rumah (kalau perlu), beli mobil (kalau mau), dan sebagainya.

Akan tetapi uang itu ditolak dengan lembut. Kata Sang Ustadz (merangkap Gubernur), kalau mau menyumbang, nanti ia akan mengirimi daftar sekolah yang butuh bantuan, rumah sakit yang kurang dana, dan semacamnya. Tidak perlu lagi setor-setor ke Gubernur, karena masing-masing sudah mendapat gaji yang cukup layak.

Ust. Didin menambahkan bahwa kalau ustadz yang jadi pejabat memang harus beda dari yang lain. Tidak lupa beliau juga memberi saran agar lain kali menerima tamu yang semacam itu harus ditemani minimal dengan seorang sahabat yang terpercaya. Selain supaya ada saksi (supaya nama baik tidak tercemar di mata KPK), juga untuk menguatkan hati agar tidak pernah tergoda untuk melakukan maksiat.

Saya pun berbisik pada Mas Satriyo, “Dalam satu malam saja bisa bikin pahala semiliar! Ngiri nggak tuh?”

Bicara memang gampang. Tapi sebenarnya posisi Sang Ustadz tidak seenak itu ketika melihat uang semiliar di hadapannya. Sebab selain berpotensi mendulang pahala semiliar rupiah, beliau pun bisa mendapat dosa semiliar rupiah. Semua tergantung pada imunitasnya sendiri terhadap godaan hawa nafsu. Mau melawan atau tunduk? Mau yang enak tapi haram, atau yang jauh lebih enak tapi halal?

Kontras sekali dengan posisi Al Amin Nur Nasution yang – saya yakin – kini sedang menghadapi masa-masa terberatnya. Sudah jatuh tertimpa tangga, itu masih lumayan. Sekarang ini ia sudah jatuh, tertimpa tangga, lalu digebuki massa pula. Belum selesai kasus suapnya, kini mengemuka beberapa tuduhan baru setelah rekaman pembicaraannya disiarkan ke seluruh penjuru Indonesia. Belum lagi urusan rumah tangganya yang carut-marut.

Kita tidak perlu mendahului pengadilan. Al Amin belum dinyatakan bersalah oleh Hakim. Yang jelas, sebelum palu diketuk pun, masyarakat sudah menghakiminya duluan. Ini adalah siksaan yang sangat berat, dan saya tidak mau membayangkan bagaimana rasanya berada dalam posisi Al Amin kini.

Kasus Al Amin – terutama rekaman suara yang diperdengarkan kemarin – telah mengajarkan kepada kita betapa orang-orang yang suaranya terekam di situ telah kehilangan sensitifitas hati nuraninya. Mereka merasa jauh dari pengawasan Allah SWT, dan jelas telah jauh pula dari predikat ‘ihsan’. Betapa ngeri membayangkan uang ratusan juta bisa dikorup hanya melalui pembicaraan singkat di telepon saja. Seratus-dua ratus juta rupiah yang seharusnya menjadi rejeki rakyat bisa bergerak ke mana saja tergantung negosiasi orang-orang tertentu. Dalam sekejap, uang ratusan juta bisa berpindah rekening. Yang mengirimnya mendapatkan ratusan juta dosa, yang menerimanya mendapatkan ratusan juta dosa, dan yang mengetahui dan mendiamkannya pun mendapatkan ratusan juta dosa. Betapa dinamisnya transaksi pengiriman dosa di dunia para pejabat!

Ratusan juta rupiah uang haram bukan satu-satunya aspek mengerikan yang dibahas via telepon itu. Masih ada pula transaksi perempuan panggilan yang tidak ubahnya sebuah mouse pad dalam transaksi pembelian komputer ; cuma bonus! Tidak ada harganya, murahan, dan diberikan cuma-cuma sebagai ‘pengikat hubungan baik’. Cis! Celaka transaksinya, celaka yang bertransaksi, dan celaka perempuan yang mau dihargai sebagai bonus murahan. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa menemukan ‘konversi’ yang tepat untuk mengkalkulasi dosanya. Cukuplah ucapan : na’uudzubillaahi min dzzaalik!

Semakin tinggi posisi kita berada, memang semakin di ujung tanduk. Jalan menuju surga dan neraka cuma sejarak uluran tangan. Jika tawaran berlumur maksiat itu disambut, maka barangkali nerakalah tempat kita tinggal kelak. Namun jika berhasil menguatkan diri untuk menolaknya, maka surga penuh dengan kenikmatan yang tak pernah mata melihatnya, tak pernah telinga mendengarnya, dan tak pernah akal membayangkannya. Pilihannya sederhana, namun tidak selalu mudah. Dalam dunia pejabat, pilihannya malah tak pernah mudah.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

http://akmal.multiply.com/journal/item/682/Sejarak_Uluran_Tangan

Hari Tanpa Televisi 2008


Ajakan Koalisi Nasional HTT 2008: Ikuti "HARI TANPA TV 2008" (MINGGU 20 JULI 2008)

"Sebagian besar anak-anak Indonesia menonton TV sekitar 1.600 jam setahun, padahal hanya 740 jam mereka belajar di bangku sekolah."

TV memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. TV dapat menjadi sumber informasi dan edukasi yang sangat handal. Namun TV juga dapat menjadi sumber hiburan yang tiada henti. Aktivitas menonton telah TV memangkas waktu interaksi dalam keluarga, menimbulkan dampak negatif berupa peniruan dan penanaman nilai pada anak-anak dan remaja, berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dsb. Fungsi siaran TV sebagai hiburan jauh lebih menonjol dibanding dengan fungsi yang seharusnya bisa diperankan berupa informasi dan edukasi. Keluarga yang mengalokasikan waktu yang lebih sedikit untuk menonton TV, akan mempunyai lebih banyak waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lebih posistif, interaktif dan mempererat hubungan kekeluargaan. Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja. Dalam setahun, jumlah jam menonton TV ini mencapai lebih dari 1.600 jam. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di sekolah dasar negeri selama setahun yang hanya sekitar 740 jam untuk kelas rendah. Secara umum dapat dikatakan bahwa ketergantungan anak pada tayangan TV sudah sangat tinggi dan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ada beberapa fakta yang dapat menggambarkan betapa mengkhawatirkannya ketergantungan itu: Pertama, belum terbentuk pola kebiasaan menonton TV yang sehat. TV masih menjadi hiburan utama keluarga yang dikonsumsi setiap hari dalam waktu yang panjang tanpa seleksi yang ketat terhadap pilihan acara yang mereka tonton. Kedua, kebanyakan isi acara TV kita tidak aman dan tidak sehat untuk anak.
Banyak acara TV dengan kandungan materi untuk orang dewasa yang ditayangkan pada jam-jam anak biasa menonton dan kemudian disukai dan ditiru oleh anak-anak. Contoh yang ekstrim, peniruan adegan laga dalam tayangan TV oleh anak telah menimbulkan beberapa korban jiwa.
Ketiga, lemahnya peraturan bidang penyiaran dan penegakannya. Sejak indutri televisi berkembang pesat, permasalahan yang terkait dengan isi tayangan makin membesar. Hingga kini masalah tersebut belum dapat diatasi dengan efektif.
Oleh karena itu, Koalisi Nasional HARI TANPA TV 2008 menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk mematikan pesawat televisi selama sehari penuh pada hari MINGGU 20 JULI 2008. Dengan mematikan TV selama sehari penuh dan mengajak anak-anak untuk memiliki kegiatan lain selain menonon TV, dapat menjadi langkah awal kita untuk mengurangi ketergantungan anak pada televisi. Dengan bersedia mematikan TV seharian, maka hal itu menjadi bukti bahwa kita sadar mengenai perlunya pengaturan dalam menonton TV bagi anak-anak kita. Selain itu, perlu dilakukan upaya bersama seluruh komponen masyarakat untuk mendesak dan mempengaruhi industri penyiaran agar lebih memperhatikan isi tayangan dan pola penyiaran yang memperhatikan perlindungan terhadap anak. Tekanan yang paling efektif bagi industri televisi adalah apabila masyarakat secara bersama-sama tidak menonton TV sama sekali, atau secara selektif tidak menonton acara tertentu dalam waktu yang panjang.
Dukungan masyarakat akan disampaikan kepada industri penyiaran, Komisi Penyiaran Indonesia, Departemen Komunikasi dan Informatika, Komisi I DPR-RI, dan berbagai pihak terkait.

Sampaikan dukungan anda melalui e-mail ke haritanpatv@ kidia.org; SMS ke nomor 0812-1002.4009; dan fax: 021-8690.5680; websitehttp://www.kidia. org
Jakarta, 11 Juli 2008

Guntarto,

Ketua SC Koalisi Nasional HTT 2008

Labeler Evolusi

PENIPUAN EVOLUSI
PENIPUAN EVOLUSI
CLICK HERE TO ORDER


Perkembangan terkini dalam bidang sains sangat jelas membuktikan kesalahan Teori Evolusi. Sebab utama fahaman Darwinisme masih disebarkan kepada umat manusia melalui kempen propaganda sejagat yang dijalankan adalah tersembunyi di sebalik aspek ideologi teori ini.
Buku ini akan menjelaskan keruntuhan saintifik mengenai teori evolusi sebagai satu kebenaran untuk manusia. Buku ini menjelaskan penipuan dan penyelewengan yang diusahakan oleh para evolusionis untuk 'membuktikan' teori ini. Setiap orang yang ingin mengetahui lebih mendalam hakikat asal-usul semua makhluk kehidupan, termasuk manusia adalah dianjurkan untuk membaca buku ini

BAHAGIAN 1: PENYANGGAHAN DARWINISM

Pengenalan:

Mengapa Teori Evolusi?

Sebahagian masyarakat yang pernah mendengar tentang "Teori Evolusi" atau "Darwinisme", mungkin menyangka ia hanyalah sebuah konsep biologi saja dan tidak mempunyai apa-apa kepentingan di dalam kehidupan mereka. Suatu kesalahan yang besar, karena ia tidak hanya berkisar dengan kepentingan biologi saja, malah teori evolusi adalah suatu penyelewengan falsafah yang telah mempengaruhi banyak orang.

Falsafah ini adalah "materialisme", yang mengandungi kepalsuan tentang bagaimana kita datang (asal kejadian). Matlamat utama materialisme tiada yang lain melainkan kebendaan dan kebendaan itu adalah intipati segalanya. Bermula dari persoalan pokok inilah ia telah menolak kewujudan seorang Al-Khaled (Pencipta), yaitu Allah. Meletakkan segalanya pada status benda, anggapan ini menjadikan manusia satu makhluk yang hanya mengambil berat tentang kebendaan dan mengetepikan segala jenis nilai-nilai moral. Ini adalah permulaan sebuah tragedi yang akan menimpa kehidupan manusia.

Bahaya materialisme tidak hanya terhadap kepada individu sahaja, tetapi ia juga akan menghancurkan nilai-nilai asas yang dipegang oleh sebuah negara dan masyarakat, seterusnya membentuk sebuah masyarakat yang tidak berjiwa dan hilang sentivitinya, sehingga yang menjadi perhatian utama mereka ialah kebendaan. Memandangkan anggota sesebuah masyarakat itu boleh menerima fahaman-fahaman yang idea seperti semangat pejuangan, kecintaan kepada seseorang, keadilan, kemuliaan, kejujuran, pengorbanan, amanah, atau moral- moral yang baik, susunan masyarakat yang diasaskan oleh individu-individu ini telah ditakdirkan untuk dimusnahkan dalam masa yang singkat. Dengan sebab itu, materialisme merupakan satu daripada beberapa bahaya terhadap nilai-nilai asas politik dan masyarakat sebuah bangsa.
Satu lagi keburukan materialisme ialah anjurannya terhadap keganasan dan perbalahan yang menyerang sesebuah negara dan masyarakatnya. Komunisme, pegangan asas ideologi ini, adalah hasil daripada falsafah materialis. Ia berusaha untuk membasmi fahaman-fahaman suci agama sesuatu negara dan keluarga, ia mengandungi dasar ideologi bahawa setiap bentuk perbuatan-perbuatan yang terpisah secara langsung menentang struktur negeriyang bersatu.

Teori evolusi mengandungi asas saintifik materialisme yang menjadi sandaran fahaman komunis. Dengan merujuk kepada teori evolusi ini, komunis mencari kebenaran dirinya sendiri dan mendakwa bahawa ideologinya adalah yang paling tepat dan selamat. Sebab itulah, pengasas komunisme, Karl Marx, menulis untuk buku Darwin, bertajuk "The Origin of Species" yang membahaskan dasar teori evolusi, sebagai "… ini adalah buku yang mengandungi asas sejarah semulajadi untuk panduan kita". 1

Dengan sebab itu, setiap fahaman materialis, yang menjadikan idea-idea Marx sebagai rujukan, sesungguhnya telah musnah kerana teori evolusi telah dipatahkan hujahnya melalui kajian sains moden. Sains telah membuktikan kesilapan teori ini dan akan berterusan membuktikan kesilapan andaian materialis yang beranggapan bahawa kewujudan itu tidak lain melainkan suatu benda (jisim), dan membayangkan bahawa setiap kejadian itu terhasil daripada satu kejadian yang lebih awal daripadanya (berperingkat-peringkat).

Tujuan utama buku ini ialah untuk mendedahkan fakta-fakta saintifik yang menyanggah teori evolusi di dalam segenap lapangan dan memaklumkan kepada masyarakat tentang kepalsuan, penipuan dan tujuan sebenar "sains" (evolusi) ini, yang sememangnya telah jelas sebagai suatu fakta yang sesat.

Perlu ditegaskan di sini, bahawa para ahli evolusi tidak mempunyai jawapan terhadap buku yang sedang kamu baca ini. Dan mereka sendiri tidak akan sama sekali cuba untuk menjawabnya kerana ia hanya akan memudahkan masyarakat mengenal pasti kepalsuan teori mereka ini.